Mengenal Ciburuy, Kampung Albino di Garut yang Sebagian Warganya Mirip Bule

 Setiap daerah tentu mempunyai ciri khas tersendiri. Seperti Ciburuy, sebuah kampung di Kabupaten Garut Jawa Barat. Di sana sebagian warga yang bermukim memiliki kulit yang putih pucat dan rambut yang putih. Menurut warga sekitar, orang yang memiliki ciri seperti itu merupakan “generasi Walanda” atau generasi Belanda yang diturunkan sejak zaman nenek moyang dahulu.

Sebagian masyarakat di sana memang memiliki ciri seperti yang disebutkan di atas, atau yang lebih populernya disebut albino. Menurut masyarakat setempat zaman dahulu kampung tersebut memang ditinggali oleh kalangan warga Belanda. Berikut fakta seputar Ciburuy, kampung albino di Garut:

Sebagian Masyarakat Keturunan Belanda
Kampung Ciburuy saat ini telah dikenal oleh masyarakat luas di Jawa Barat sebagai Kampung Bule. Kehadiran penduduk yang berparas putih ini merupakan warisan dari nenek moyang mereka yang merupakan keturunan Belanda.

Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan tokoh kampung setempat bahwa anak yang lahir albino sudah bukan hal yang aneh lagi karena dulunya kampung ini memang pernah dihuni oleh orang Belanda. Dari situ anak albino seolah merupakan titisan yang akan terus berlanjut hingga anak cucu mereka nanti.

Ada Sejak Zaman Kerajaan Padjajaran
Menurut cerita Ujang Nana Suryana (33), selaku pemangku adat di Kabuyutan Ciburuy, keberadaan warga yang berkulit albino sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajajaran, berabad-abad silam.

Hal tersebut diwariskan oleh nenek moyang mereka zaman dahulu yang konon juga memiliki gen layaknya albino.

“Saya tidak tahu bagaimana asal muasalnya. Yang jelas, warga di kampung ini dulunya satu keturunan. Makanya, sampai sekarang keturunan albino di sini masih ada,” ungkap Nana yang dua anaknya juga berkulit albino beberapa waktu lalu.

Tidak Semua Berkulit Albino
Menurut pengakuan Nana, hanya 2 anaknya yang memiliki kulit albino di keluarganya. Ia dan istrinya memiliki kulit sawo matang. Dua anak Nana itu adalah Dewi Resmana (13) dan Jajang Gunawan (2,5).

Nana pun mengakui bahwa terdapat nenek moyangnya yang berkulit albino. Namun Nana tidak mengetahui persis nenek moyang generasi ke berapa yang mempunyai kelainan gen tersebut.

“Tidak jelas eyang atau buyut saya ke berapa yang seperti itu. Cuma yang saya tahu ini disebut masalah gen,” terangnya sembari momong Jajang yang mirip anak bule itu.

Terdapat 9 Orang Albino
Di Kampung Ciburuy saat ini terdapat sembilan orang yang memiliki pigmen kulit dan rambut albino. Mulai dari anak-anak yang masih balita hingga manula.

Jajang yang masih berumur 2,5 tahun menjadi penduduk albino paling muda. Sementara itu, Emak Entar yang berusia 60 tahun menjadi penduduk albino tertua. Tujuh lainnya adalah Lukman Hakim (3), Dewi Resmana (13), Heri Agustin (15), Rosana (17), Firman (40), Isur Suryana (41), dan Asep (50).

Angka Preferensi Albino Tinggi
Dilansir dari liputan6.com, jumlah penduduk Kampung Ciburuy yang terdata saat ini terdapat sekitar 1.600 orang. Artinya, angka preferensi albino di Ciburuy mencapai 1:178 atau 1 albino di antara 178 orang normal. Jumlah itu termasuk sangat tinggi.

Sebagai perbandingan, berdasar data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka preferensi albino di dunia saat ini adalah 1:17.000. Artinya, hanya ada 1 albino di antara 17 ribu orang.

Sebenarnya, penduduk albino juga terdapat di kampung lain di Garut. Tapi, umumnya hanya satu atau dua orang. Contohnya di Desa Pamalayan dan Siderang Datar. Itu pun bisa jadi warga albino yang masih keturunan warga Ciburuy.

“Di sini (Ciburuy) paling banyak. Sampai ada yang menyebut kampung kami ini kampung bule,” ujarnya dengan logat Sunda yang kental.

Memiliki Pertanda Khusus
Menurut pengakuan Siti, Istri Nana, sebelum melahirkan Jajang, Ia mendapat pertanda dari alam berupa bulan yang bersinar sangat terang. Sejak saat itu Siti berkeyakinan bahwa Ia akan melahirkan keturunan Albino.

Tak Boleh Dikunjungi Saat Hari Jumat dan Sabtu
Kampung Ciburuy sendiri merupakan kampung dengan nuansa adat yang cukup kental, sehingga memiliki pantangan khusus yang harus dipatuhi. Salah satunya tidak boleh dikunjungi saat hari Jumat dan Sabtu. Menurut informasi pantangan tersebut telah berlaku sejak turun temurun dan tidak pernah dilanggar oleh masyarakat.

Sumber: merdeka.com

Baca Juga
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama