Punya Darah Yahudi, Marini Soerjosoemarno Merasakan Ketenangan Usai Memeluk Islam



Sosok artis senior Marini Soerjosoemarno dikabarkan memeluk Kristen sebelum kemudian pindah agama Islam. Anak sambungnya yakni aktor Lukman Sardi menyebut Marini pindah agama dari Kristen ke Islam sebelum resmi menikah dengan ayahnya almarhum Idris Sardi.

Kata Lukman, artis berdarah Indonesia-Belanda-Yahudi tersebut menjadi seorang mualaf namun kedua orang tuanya tetap memeluk agama Kristen.

"Bahkan waktu bokap gue kawin sama mamah Marini, kan mamah Marini statusnya pada saat waktu itu kan Kristen juga karena bapak ibunya Kristen. Cuman akhirnya mamah Marini memilih untuk masuk Muslim, tapi bapak ibunya kan enggak," tuturnya seperti dikutip dari Hops.id.

Marini percaya rezeki Allah

Diketahui, Marini Soerjosoemarno gagal membangun rumah tangga selama empat kali. Namun kini, artis pemilik nama lengkap Kanjeng Raden Ayu Soemarini Soerjosoemarno tersebut tetap bahagia dengan kesendiriannya.

"Saya menikmati kesendirian saya sekarang, saya benar-benar senang, saya nyaman, saya enggak pernah merasa 'aduh gue sendirian'," ungkap Marini di YouTube Venna Melinda Channel.

Meski demikian, Marini tetap menjalin komunikasi dengan anak-anak dan keluarganya. Bahkan, Marini juga akrab dengan istri baru dari mantan suaminya tersebut.

Mereka kerap menghabiskan waktu bersama meski tak lagi menjalin hubungan rumah tangga. Salah satunya menunaikan ibadah umrah.

"Alhamdulillah saya sama semua sekarang baik-baik lho. Sama istrinya baik-baik, sama anak-anak tiri saya baik semua, orang suka bingung orang saya pernah umrah bareng," tuturnya.

Di usianya yang sudah 74 tahun, Marini Soerjosoemarno tetap eksis di dunia hiburan Tanah Air.

Marini kemudian mengungkapkan salah satu kunci agar kariernya tetap bersinar, yakni percaya akan rezeki yang diberikan oleh Allah.

"Kalau saya enggak ngoyo ya, sebab saya percaya rezeki dari Allah tuh pasti datang. Tapi begitu kita terima, kita harus betul-betul serius, fokus," tuturnya.

Selain itu, dia juga kerap menebarkan aura positif dengan memancarkan kebahagiaan terhadap orang-orang di sekitarnya.

"Kalau kita happy, enggak ngiri sama orang, pasti orang yang ketemu sama kita akan merasakan aura itu. Orang yang penuh kebencian, kita kalau dekat sama orang itu, aura enggak enaknya pasti dapat," pungkas Marini Soerjosoemarno.
Baca Juga
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama

Information