Kontroversi Pemakaman Dorce: Hormati Keputusan Dorce Atas Tubuhnya


Wasiat Dorce Gamalama agar jika dia meninggal nanti, dimakamkan sebagai seorang perempuan menuai pro kontra. Sejumlah ulama, salah satunya dari Da’I Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah menyoal permintaan mantan pembawa acara kondang ini, karena permintaan itu dinilai tidak sesuai dengan ajaran Islam, agama yang dianut Dorce.

Miftah menyarankan agar Dorce tetap dimakamkan sebagai laki-laki, sesuai saat ia dilahirkan. Miftah juga mengingatkan bahwa wasiat dari seseorang itu harus ditunaikan dengan syarat tidak melanggar syariat agama.

"Tapi kalau melanggar syariat, melanggar perintah agama, tentunya tidak harus dilakukan," tuturnya sebagaimana dikutip Antara pada Senin (31/1/2022).

Namun demikian, ada juga ulama yang mendukung keputusan dan pilihan Dorce ini. Taufik Dalmas, adalah salah satunya. Wakil Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jakarta ini mengatakan bahwa tak seorangpun yang bisa mencampuri hubungan seorang manusia dengan sang Khalik.


“Wasiat Dorce mendapatkan tanggapan dari beberapa tokoh agama. Saya hanya bilang: otoritas tokoh agama adalah otoritas ilmu agama. Soal hubungan dengan Tuhan adalah hubungan masing-masing. Tidak ada yang bisa ikut campur. Ini harus dipahami dengan baik," tulis ahli agama yang menjadi pengasuh program “Artis Bertanya Kiai Menjawab” di TVNU itu di akun Twitter pribadinya @TaufikDamas pada Senin (31/1/2022).

Lantas, bagaimana Dorce menanggapi pro kontra ini? Transpuan yang tahun ini akan berumur 69 ini tak mau terlalu ambil pusing. Namun ia menyadari bahwa wasiatnya telah menjadi perbincangan dan memicu pro kontra.

"Orang kini sudah mulai banyak membicarakan tentang kematian saya," kata Dorce Gamalama dalam video rekaman yang diunggah melalui akun Instagram @dg_kcp pada Minggu (30/1/2022).
Iklan – Artikel dilanjutkan di bawah

Dalam rekaman lainnya, ia meminta agar para ulama menyerahkan pengurusan jenazahnya nanti menjadi kepada keluarganya.

“Kepada kiai, ustaz-ustaz yang telah menerangkan keadaan mati saya, siapa yang akan memandikan saya, siapa yang akan menguburkan saya, biarkanlah keluarga saya yang nanti akan mengurusnya,” ujar perempuan yang biasa disapa Bunda Dorce itu.

Dalam rekaman itu, Dorce juga menyatakan tidak ingin mempersoalkan jenazahnya nanti akan diurus oleh laki-laki atau perempuan, baginya yang terpenting jenazahnya kelak tetap diurus.

"Seandainya memang saya meninggal uruslah jenazah saya. Seandainya laki-laki yang urus, uruslah. Seandainya perempuan yang urus, uruslah sesuai kelamin yang saya miliki,” lanjutnya.

Hormati keputusan dan pilihan Dorce

Seperti diketahui Dorce yang selama ini dikenal sebagai entertainer serba bisa itu merupakan seorang transpuan. Ia terlahir pada Juli 1963 di Solok, Sumatera Barat dengan nama Dedi Yuliardi. Sejak kecil (umur 7 tahun) ia merasa sebagai perempuan.

Namun, saat itu ia hanya bisa memendam rasa ini sendirian. Dorce seperti informasi yang dikutip dari merdeka.com, waktu kecil lebih senang bermain dengan teman perempuan. Kesadaran penuh bahwa dirinya adalah perempuan muncul saat Dorce berusia 10 tahun. Itu terjadi saat dia harus tampil di acara peringatan Hari Kemerdekaan.

Perannya sebagai seorang nenek dalam drama pendek itu mengharuskan Dorce mengenakan baju perempuan. Tapi hal itu juga membuatnya bahagia dan merasa menjadi diri sendiri.

Dorce yang dikaruniai bakat akting dan seni music ini, sukses menjalani karir di dunia hiburan. Ia tercatat pernah bergabung dengan band BamBros di awal karirnya. Ia kemudian hijrah ke Fantastic Dolls, grup band yang beranggotakan para waria.

Dengan uang pendapatannya sebagai pekerja seni, Dorce akhirnya menjalani operasi perubahan kelamin pada 1986. Ia lantas mengganti namanya menjadi menjadi Dorce Ashadi. Di dunia hiburan, ia menggunakan nama panggung Dorce Gamalama. Nama itulah yang dikenal masyarakat sampai sekarang.

Anggun Pradesha, aktivis transpuan yang juga sutradara dan pengurus Yayasan Intan (Inklusi Transperempuan) saat dihubungi Konde.co mengatakan, tak seharusnya publik meributkan masalah ini. Apa yang akan dilakukan terhadap jenazahnya dan bagaimana Dorce akan dimakamkan sepenuhnya menjadi otoritas Dorce. Ia mengajak agar masalah ini dilihat dari kaca mata kemanusiaan, bahwa setiap manusia punya otoritas penuh atas tubuh dan hidupnya.

“Hormati keputusan mbak Dorce yang memiliki otoritas penuh atas tubuhnya. Dia tentu punya pengalaman-pengalamannya sendiri terhadap tubuhnya dan sudah berdiskusi dengan tubuhnya sendiri. Jadi hormati apapun keputusan yang dia ambil untuk tubuhnya,” ujar Anggun kepada Konde.co melalui sambungan telepon pada Rabu (2/2/2022).

Ditambahkan, bisa jadi Dorce membuat wasiat pemakamannya karena saat ini sedang sakit serius. Dan karena Dorce merasa dirinya seorang perempuan, Anggun melanjutkan, sehingga ia ingin dimakamkan sebagai perempuan.

“Jika wasiatnya seperti itu ikuti saja, selama tidak merugikan ataupun mengakibatkan hal yang buruk kepada orang lain,” cetus Anggun.

Hal ini, lanjut Anggun, bukan karena Dorce telah menjalani operasi dan mengganti kelaminnya menjadi perempuan. Tetapi lebih dikarenakan, menjadi perempuanlah yang diinginkan Dorce atas tubuh dan hidupnya. Anggun mencontohkan, banyak kaum transgender yang menjalani identitas barunya tanpa mengubah genital maupun nama yang mereka sandang saat lahir. Tapi mereka tetap berhak diperlakukan sesuai identitas barunya, juga saat dia meninggal nanti.

Menurut Anggun, kontroversi terkait wasiat pemakaman Dorce ini menjadi contoh beratnya perjuangan hidup komunitas transgender khususnya transpuan. Dalam kehidupan sehari-hari mereka harus dihadapkan dengan berbagai panggilan dan stigma yang membuat hidup mereka tidak nyaman.

Belum lagi berbagai perlakuan diskriminatif yang membuat transgender harus berusaha lebih berat untuk mendapatkan hak-hak dasarnya sebagai warganegara. Saat meninggal pun peminggiran itu tetap berlanjut. Tidak sedikit transpuan yang meninggal masih harus dihadapkan pada komentar-komentar miring, dan pengingkaran terhadap jati diri yang mereka inginkan.

Mengakhiri perbincangan kami di siang kemarin, Anggun tidak memungkiri ada anggota masyarakat yang meyakini nilai yang berbeda.

“Kalaupun memiliki value yang berbeda kita harus saling menghormati. Jangan menghakimi dan memaksakan perbedaan value itu sehingga merugikan orang lain,” pungkasnya.
Baca Juga
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama

Information