Cita-cita Jadi Polisi, Bocah SD Banting Tulang Jual Abu Gosok Buat Hidupi Ibu & Adik

 Masa anak-anak merupakan momen yang tepat bagi mereka untuk puas bermain dan belajar. Bukan tugas mereka untuk banting tulang hingga memeras keringat demi sesuap nasi.

Kisah Khazis (12) kali ini seolah membuka mata publik, masih ada anak kecil yang hidup dalam kesulitan. Ia menjadi tulang punggung keluarga.

Setiap hari, Khazis harus berjualan abu gosok demi menghidupi ibu dan kedua adiknya. Tanpa pamrih, ia rela sering tak sekolah hanya untuk mendapatkan uang yang tak seberapa. Seperti apa kisah selengkapnya? Berikut ulasannya.

Jadi Tulang Punggung Keluarga – Khasiz tengah mengais sesuatu di antara tumpukan pembakaran sekam padi. Tubuh kecil yang seharusnya masih mendapatkan kasih sayang dari keluarga justru digunakan bocah malang ini untuk bekerja.

Setiap hari, Khazis diketahui mengumpulkan abu gosok yang didapatkannya dari hasil pembakaran sekam padi. Pekerjaan ini telah dilakukannya selama satu tahun.

“Khazis (12 tahun) menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan abu gosok dari hasil pembakaran sekam padi yang sudah setahun lebih ia jalani,” dikutip dari laman donasi online.

Ibu Mengurus Dua Adik – Sebenarnya, Khazis masih memiliki ibunda, Eva. Namun, Eva tak punya banyak pilihan. Sang ibunda harus mengurus kedua adiknya dan menjadi ibu rumah tangga, mengurus kebutuhan sehari-hari dari ketiga putra-putrinya di rumah kecil berukuran 3×2 meter milik saudaranya. “Bukan tak sedih Ibu Eva melihat anaknya harus berjualan abu gosok setiap hari, ia tak punya pilihan lain, jika ia bekerja anaknya yang masih kecil tak ada yang mengurus,” dikutip dari laman donasi online.

Berjualan 9 Jam – Terkadang, pekerjaan Khazis semakin ringan tatkala dibantu oleh tangan-tangan kecil dari sang adik. Usai berhasil memasukkan abu gosok ke dalam kantong plastik, Khazis langsung mencoba peruntungan. Ia tak malu untuk menjajakan bungkusan abu gosok di depan minimarket atau di berbagai tempat yang ramai. Khazis diketahui berjualan dari pukul 8 pagi hingga 5 sore dengan membanderol abu gosok seharga Rp2 ribu per kantong.

“Setiap hari berangkat ke tempat penggilingan padi, mengambil 12 kantong plastik abu gosok untuk dijajakan dengan berkeliling atau mangkal di beberapa tempat seperti di depan minimarket yang dijual seharga Rp2.000 per kantong plastiknya dari pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore,” tulis laman donasi online.

Ketakutan Terdalam – Bukan tak mementingkan pendidikan yang masih ditempuhnya hingga saat ini, namun ada alasan lain bagi Khazis. Ia memiliki ketakutan, jika dirinya memilih sekolah, maka secara otomatis tak ada yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup ibu dan kedua adiknya. “Khazis takut jika ia sekolah tak ada yang memberi makan adik dan ibunya,” dikutip dari laman donasi online.

Cita-cita Jadi Polisi – Bocah yang duduk di bangku kelas 6 SD ini masih memiliki asa. Khazis bercita-cita menjadi seorang polisi dan hendak merasakan betapa bahagianya mengenyam pendidikan di pesantren.

“Bercita-cita menjadi polisi dan berniat untuk melanjutkan sekolah dengan mondok di pesantren bersama adiknya,” tulis laman donasi online.

sumber : merdeka.com


Baca Juga
Lebih baru Lebih lama