Wanita Muslim RI Jadi Sopir Bus Sekolah di Amerika, Murid-Murid Penasaran Jilbabnya

 

Menetap di luar negeri menjadi sebuah impian bagi sebagian masyarakat tanah air. Banyak cerita yang bisa dialami karena perbedaan budaya dan cara hidup.

Hal ini juga dialami perempuan muslim asal Indonesia yang tinggal di negeri adidaya Amerika Serikat ini. seperti kisah satu ini. Wanita bernama Yohana Djuanda memiliki pengalaman luar biasa selama bekerja di negeri paman Sam.

Yohana merupakan seorang WNI yang berprofesi sebagai sopir bus sekolah di Leesburg, negara bagian Virginia, Amerika Serikat. Sebagai pemeluk agama Islam, ia selalu mengenakan jilbab.

Rupanya, jilbab yang dikenakannya menjadi perhatian para murid yang dibawanya menuju dan pulang sekolah. Seperti apa kisahnya? Simak ulasan dan videonya berikut ini, dilansir dari kanal YouTube VOA Indonesia, Jumat (30/7).

Sempat Nangis jadi Sopir Bus
Sudah enam tahun berlalu Yohana Djuanda menjalani profesi sebagai sopir bus sekolah di AS. Ia mengaku senang, lantaran berhubungan dengan anak-anak.

Sebelumnya, Yohana sempat bekerja sebagai pengasuh anak di Amerika, kemudian beralih menjadi sopir.

“Saya kerja jadi sopir bus sudah lebih dari 6 tahun. Memilih profesi ini sebenarnya saya senang. Semua pekerjaan yang ada hubungannya sama anak,” kata Yohana.

Saat pertama kali datang ke Amerika, WNI satu ini mengaku belum bisa menyetir sama sekali. Baru berlatih setir mobil dan bus.

Hingga tak menyangka bisa menjalani serangkaian tes dengan lancar. Selain itu, Yohana sempat terkejut melihat bus yang dikendalikan besar sekali. Ditambah lagi, tombol pengatur yang cukup banyak.

“Waktu hari pertama sebenarnya saya takut juga. Pakai acara mau nangis karena pas saya lihat di kaca, ya Allah gede banget. Panik pas lihat tombol itu ada banyak banget, puluhan, mana yang perlu dipencet,” tawanya mengenang.

Hingga tak menyangka bisa menjalani serangkaian tes dengan lancar. Selain itu, Yohana sempat terkejut melihat bus yang dikendalikan besar sekali. Ditambah lagi, tombol pengatur yang cukup banyak.

“Waktu hari pertama sebenarnya saya takut juga. Pakai acara mau nangis karena pas saya lihat di kaca, ya Allah gede banget. Panik pas lihat tombol itu ada banyak banget, puluhan, mana yang perlu dipencet,” tawanya mengenang.

Jilbabnya Selalu Bikin Penasaran Para Murid

Lantaran penampilan Yohana terbilang cukup unik bagi orang Amerika, tak sedikit anak yang kerap bertanya soal jilbab yang dikenakannya. Bahkan ada yang selalu memuji.

“‘Ms Yohana kenapa kepalanya ditutupi? Boleh aku lihat rambutmu?’ Yang kecil-kecil yang tanya. Ada satu anak yang setiap hari kalau naik bus saya selalu bilang, ‘Wah jilbabmu cantik sekali aku suka. Lihat bunga itu di jilbabmu’. Luar biasa anak-anak ini,” papar Yohana.

Sementara untuk menunaikan ibadah salat, Yohana akan menunggu hingga benar-benar selesai bekerja, supaya anak-anak tersebut tidak melihat. Terkadang dia juga harus salat di dalam bus.

“Saya enggak pernah salat di depan anak-anak. Kalau saya kerja seharian. Saya pernah field trip sampai malam, ya saya salat saja di bus atau saya salat saja di lapangan,” imbuhnya.

Tanggung Jawab Keselamatan Anak-Anak

Yohana memiliki tanggung jawab besar sebagai seorang sopir bus sekolah. Selain memantau laju kendaraan, ia juga harus memerhatikan kondisi anak-anak.

“Kita itu enggak cuma nyopir tanggung jawabnya. Tapi harus memerhatikan anak-anak juga. Makanya dikasih kaca gede banget gitu di depan,” ujar Yohana.

Tantangan lain yang dihadapi Yohana tentu saat menghadapi anak-anak baru. Sementara untuk murid yang sudah terbiasa, akan memiliki ikatan batin.

“Kalau anak itu sudah lama sama kita, mereka itu sudah ada hubungan batin gitu. Karena ini kan sopir saya. Jadi respect mereka jadi lebih tinggi, yang jadi problem kalau kita punya anak-anak baru. Pernah saat jumpa di grocery, tiba-tiba ada anak kecil memeluk katanya kangen,” sambungnya dalam video yang lain.

Tetap Menyetir di Masa Pandemi

Suami dari Yohana, Daniel Kirk atau Lukman menceritakan kesibukan sang istri sebagai wanita karier. Karena tuntutan pekerjaan, mereka bahkan tak bisa menikmati sarapan bersama.

“Istri saya pergi kerja cukup pagi. Biasanya kami bangun kemudian salat bersama. Dia berangkat sekitar 6.15, baru saya berangkat kerja juga. Jadi kita jarang sarapan bersama,” kata Lukman.

Lukman mengaku sempat khawatir dengan keadaan sang istri, lantaran tetap bekerja di luar semasa pandemi Covid-19.

“Sejak pandemi saya khawatir istri saya kena Covid-19. Karena bekerja mengantarkan makan siang untuk anak-anak yang tak dapat sekolah. Ketika sekolah dibuka kembali, ia mengantar-jemput murid-murid. Sekarang saya lebih lega, karena dia sudah divaksin,” tandas Lukman.

Sumber : merdeka.com

Baca Juga
Lebih baru Lebih lama