Hanya Jual Cilok, Pria ini Sukses Jadi Orang Kaya Kini Punya 13 Rumah dan 3 Apartemen

 Bisnis apa pun jika digeluti secara semangat, penuh tekad, dan telaten, maka bukan tidak mungkin akan menuai kesuksesan. Sekali pun, hanya bisnis kecil, seperti menjual jajanan. Harsono, pemilik bisnis cilok Edy adalah bukti nyatanya.

Bisnis Cilok Edy yang telah dirintisnya sejak puluhan tahun lalu (sejak 1997) ini kini mengubah hidupnya, dari yang belum punya apa-apa lantas menjadi kaya raya, dengan memiliki sejumlah aset mulai dari rumah pribadi, rumah kontrakan dan rumah kos, sawah, hingga apartemen yang turut disewakan untuk mengelola perputaran uangnya.

“Sekarang apartemen punya tiga untuk disewakan, rumah ada 13 untuk dikontrakkan dan dikoskan,” ucapnya. Bukan cuma itu saja, dari hasil usaha cilok tersebut, Harsono juga bisa menunaikan ibadah haji pada tahun 2019 lalu.

Tapi tentu saja, apa yang dimilikinya ini tak semudah yang didengar. Ada banyak perjuangan dan pengorbanan sebelum akhirnya usaha Cilok Edy yang dirintisnya memiliki nama hingga bisa buka cabang di luar kota, di Probolinggo dan Bondowoso.

Ya, tak jauh berbeda dengan pedagang jajanan lainnya, Harsono juga sempat merasakan yang namanya berjualan keliling. Bahkan saat pertama kali berjualan, cilok dagangannya tidak terjual habis lantaran banyak orangtua tidak memperbolehkan anaknya membeli cilok karena merupakan makanan jenis baru di Jember, melansir Kompas.com.

Akhirnya, Harsono yang putus asa kembali menjalani profesi lamanya sebagai tukang becak. Namun sang istri, Siti Fatimah, terus memberi dukungan, meminta suaminya untuk berjualan cilok lagi.

“Waktu itu, penghasilan becak hanya Rp 5.000. Sedangkan berjualan cilok Rp 10 ribu,” kata Siti Fatimah.

Atas dukungan dan semangat istrinya itu, Harsono pun kembali berjualan cilok yang dibuatnya bersama sang istri menggunakan bahan baku daging sapi.

Seiring berjalannya waktu hingga memasuki tahun ke lima, usaha cilok Harsono yang lebih dikenal warga dengan nama Cilok Edy itu laris manis. Banyak pembeli ketagihan karena memiliki rasa yang berbeda, berkat tambahan daging sapi.

“Tapi sekarang dicampur dengan daging ayam, karena daging sapi cukup mahal,” terang Harsono.

Harsono yang semakin semangat lantas semakin meningkatkan waktu berjualan. Dari yang sebelumnya mulai pagi sampai sore, kini malam pun ia sambung dengan berjualan di alun-alun Jember.

“Tahun 200-an itu mulai dikenal, hingga ambil tenaga orang lain karena sudah tidak nutut,” lanjutnya.

Dan kini, bisnis Cilok Edy semakin berkembang pesat. Harsono bahkan merekrut 10 karyawan, dimana lima orang bertugas berjualan langsung menggunakan rombong, sementara lima karyawan lainya bagian meracik dan memasak cilok dengan pantauan sang istri, karena mereka ingin tetap menjaga rasa serta kualitas.

“Intinya dalam memulai usaha, harus telaten dan sabar. Harus bisa mengalami suka duka menekuni bisnis itu,” ucap dia.

sumber : tribunnews.com

Baca Juga
Lebih baru Lebih lama