Cerita Bocah di Tasik yang Diusir Warga-Dirangkul Polisi

 


Seorang bocah nampak berdiri di samping Kapolres Tasikmalaya AKBP Rimsyahtono saat memimpin apel di Mapolres Tasikmalaya, Senin (28/6/2021). Sambil membawa map berisi sambutan, bocah itu tampil layaknya seorang ajudan.

Bocah itu bernama Arul Miftahul Hud, warga Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Jelang HUT ke-75 Bhayangkara, Arul diangkat menjadi anak asuh Polres Tasikmalaya.

“Benar tadi arul ini jadi ajudan pas apel. Itung-itung diperkenalkan kepada anggota bahawa Arul ini adalah anak asuh kami Kepolisian Resort Tasikmalaya,” kata Kapolres Tasikmalaya AKBP Rimsyahtono

Arul diangkat anak asuh setelah menetap selama empat bulan lamanya di ruang PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Polres Tasikmalaya. Sebelumnya Arul diadukan masyarakat terkait kenakalan anak. Meski sudah diselesaikan dengan kekeluargaan Februari lalu, Arul justru lebih nyaman tinggal di Kantor Polisi. Bahkan, Pihak Kepolisian menyediakan ruangan untuk tinggal arul.

“Ceritanya anak ini pada bulan Februari berhadapan dengan hukum, di lingkungannya dituduh melakukan kejahatan kecil (mencuri). Saat di Polres dilakukan restorasi justice dan diselesaikan melalui kekeluargaan, sehingga tidak dilanjut,” ucapnya.

Arul mendapatkan pendampingan dari anggota hingga pembelajaran yang baik. Kepolisian akan menyekolahkan arul masuk jenjang SMP atau pondok pesantren hingga mampu mengejar cita-citanya menjadi polisi.

“Secara psikologis anak ini belum bisa kembali ke lingkungan tempat tinggalnya dan malah betah tinggal di ruang Satreskrim Polres Tasikmalaya. Kepolisian akan menyekolahkan arul yang memiliki cita cita jadi anggota Polisi. Orang tuanya mohon maaf secara ekonomi memang harus kami bantu,” kata Rimsyah.

Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya AKP Hario Prasetyio Seno mengungkapkan anak ini berbaur biasa dengan anggota. Bahkan dia menunjukkan perkembangan psikologis dan perilaku yang semakin baik.

“Dia ini enggak mau pulang ke rumah. Kami sebagai anggota kepolisian harus mengayomi masyarakat tak terkecuali dia makanya kita sediakan juga untuk tinggal. Dia betah sekali di kantor kami,” kata Hario.

Sementara itu, Arul mengaku betah tinggal di Kantor Polisi karena anggotanya ramah, baik dan mengurusnya dengan baik. Di kantor polisi pula ia mendapatkan perlakuan luar biasa.

“Lebih betah di sini (kantor polisi), pada baik-baik. Katanya mau disekolahkan, kalau saya siap saja bahkan senang ada yang peduli membantu. Saya enggak mau balik di kampung kan enggak boleh saya balik lagi,” ujarnya.

Arul memang diketahui berasal dari keluarga kurang berada. Selama ini keluarganya mengandalkan dari penghasilan sebagai kuli bangunan. Di mana harus menghidupi istri dan 7 orang anaknya. Arul merupalan anak ke 2 yang baru lulus kelas 6 SD. Sementara orang tuanya belum terpikirkan untuk bisa melanjutkan sekolahnya.

Fakta lain, diungkap KPAID Kabupaten Tasikmalaya. Arul ternyata sempat ditolak warga di tempat tinggalnyan karena kenakalan anak-anak.

KPAID mengapresiasi langkah kepolisian Resort Tasikmalaya yang mengurus Arul.

“Dia ini berdasarian penelusuran kami ternyata ditolak oleh warga di kampungnya karena yah kenakalan. Kami apresiasi Polres Tasikmalaya yang memberikan ruang untuk pemulihan Fsikologis dan Perilaku Arul,” kata Ato, Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya.

KPAID akan turut melakukan pendampingan terhadap anak ini agar benar-benar mendapatkan haknya.

“Kita dampingi terus agar dia mendapatkan haknya,” ujar Ato.

sumber : detik.com

Baca Juga
Lebih baru Lebih lama