Pria Ini Geram Sering Dapat Stigma Teroris karena Janggutnya


 Melalui status media sosialnya, Bagja (29) meluapkan kemarahannya karena ada sejumlah orang yang memberikan stigma buruk atas penampilannya. Pria berjanggut yang kerap mengenakan celana semata kaki ini dicap buruk setelah ada rangkaian aksi teror di Indonesia.

"Gue bikin status begitu supaya orang-orang yang mem-bully penampilan gue bisa belajar bahwa kami gak bisa digenalisir," ujar Bagja kepada IDN Times, Jumat (2/4/2021).

"Kalau pun penampilan teroris sama kaya kami, tapi akidahnya berbeda. Selama ini gue kerja ke Mabes dan ke Polda baik-baik saja, kenapa ada teroris ini jadi dituduh," tambah pria yang berprofesi sebagai wartawan itu.

1. Sudah berjanggut sejak kuliah

Pria Ini Geram Sering Dapat Stigma Teroris karena Janggutnya(Bagja) Dok.Istimewa

Bagja pertama kali memelihara janggut saat kuliah karena tertarik. Sejak saat itu, ia mengaku sudah sering mendapat stigma buruk.

"Saat itu gue semakin dicap jelek, semakin mencari-cari. Ternyata punya janggut itu Sunnah dan ada hadisnya," ujar Bagja.

2. Stigma negatif muncul gak cuma dari masyarakat umum

Pria Ini Geram Sering Dapat Stigma Teroris karena Janggutnya(Bagja) Dok.Istimewa

Stigma buruk itu didapatnya tak hanya dari masyarakat umum, melainkan aparat. Ia mengaku pernah diminta cukur janggut saat punya kesempatan wawancara dengan Moeldoko di Pangkalanbun yang saat itu masih menjadi Panglima TNI, tapi ia menolaknya.

"Lah kenapa Pak? Sepicik itu bapak berpikir saya punya niat buruk sama panglima sendiri?" ujar Bagja mengulangi perkataannya saat itu.

3. Jangan asal tuduh

Pria Ini Geram Sering Dapat Stigma Teroris karena Janggutnya(Bagja:kanan) Dok.Istimewa

Meski sering dapat stigma buruk, ia tak pernah terpikir untuk memangkas janggutnya. Menurutnya, memelihara janggut juga bisa sebagai alarm pengingat perbuatannya.

"Ketika gue mau bermaksiat, malu lah sama tampilan gue. Gue gak mau juga dibilang sok suci, yasudah gue biasa saja, biar perbuatan gue Allah menilai," ujarnya.

Ia pun berharap agar orang-orang tak mudah menuduh orang tanpa bukti. Sebab, kita gak tahu latar belakang orang tersebut.

"Jangan menuduh, tabbayun dulu. Kalau mengkhawatirkan baru laporkan," ujarnya

Baca Juga
Lebih baru Lebih lama