Tan Kok Liong, Masjid Peninggalan Anton Medan yang Mirip Kelenteng

 


Masjid Tan Kok Liong terdiri dari empat lantai di mana hanya lantai satu dan dua yang dapat digunakan, sedangkan lantai tiga dan empat sengaja dikosongkan. Diketahui nama masjid Tan Kok Liong diambil dari nama kecil Anton Medan.

"Nama (masjid) diambil dari nama kecil almarhum," kata menantu Anton Medan, Syamsul Bahri Radjam, Selasa (16/3/2021).

Masjid berukuran 16x20 meter yang dibangun di atas lahan seluas satu hektare ini termasuk dalam Komplek Pondok Pesantren At-Taibin. Lantai pertama merupakan sebuah aula untuk rapat pesantren dengan ukuran yang cukup luas, sedangkan lantai dua merupakan ruangan inti tempat melaksanakan kegiatan berjamaah.

Jika masjid pada umumnya meletakan kubah tepat di bagian atas, Masjid Tan Kok Liong meletakkan kubah di lantai dua tepat di lantai tempat ibadah berjamaah. Di lantai yang sama, terdapat tulisan 'Masjid Jami Tan Kok Liong' dengan bentuk tulisan menggunakan Bahasa Indonesia tapi bergaya Tiongkok.

2. Ornamen campuran budaya Arab dan Tionghoa


Tan Kok Liong, Masjid Peninggalan Anton Medan yang Mirip KelentengMasjid Tan Kok Liong, peninggalan Anton Medan (IDN Times/Rubiakto)

Seperti masjid pada umumnya, pada bagian atas masjid, terdapat tulisan 'Allah' berbahasa Arab. Namun hal berbeda terdapat di setiap ujung atap masjid yang bertengger patung burung Rajawali, naga, dan lima ekor burung perkutut di ujung karpusan.

"Maknanya harapan agar umat Islam bisa memandang setiap masalah setajam tatapan rajawali, bukan seperti burung perkutut yang selalu bergerombolan namun tak sanggup apa-apa. Sementara itu naga melambangkan kesuksesan," kata Syamsul.

Arsitektur luar masjid ornamen-ornamen khas Tionghoa, mulai dari jendela hingga tembok masjid. Selain itu, terdapat juga beberapa lampion berwarna merah yang digantungkan di langit-langit luar masjid. 

Papan nama masjid di bagian depan yang memiliki dasar warna hitam dan tulisan berwarna emas, bermakna latar belakang Anton Medan yang dahulu berkecimpung di dunia kriminal yang identik dengan dunia hitam sebelum akhirnya ia sampai pada titik terang dan memutuskan hijrah menjadi seorang mualaf.

3. Bangunan tampak kurang terawat, namun sang anak berjanji akan meneruskan perjuangan Anton Medan

Tan Kok Liong, Masjid Peninggalan Anton Medan yang Mirip KelentengKondisinya tidak terawat (Rubiakto/IDN Times)

Sayangnya masjid unik berornamen budaya Tionghoa tersebut sudah lama tidak digunakan, saat memasuki ruangan tersebut, karpet-karpet untuk salat telah digulung oleh para pengurus. Sebagian plafon atap ruangan tampak sudah terbuka dengan noda-noda bekas air hujan.

Pintu dan jendela masjid yang berwarna hijau dengan ornamen Tionghoa sudah sangat rapuh, bahkan reyot. Di dalam, terdapat sebuah kaligrafi indah berbahasa Arab di salah satu sudut ruangan. Masjid yang selalu menjadi tempat Anton menyampaikan pesan-pesan Islam pun tampak tidak terawat. 

"Nanti suatu saat akan kami aktifkan kembali, kembali ke perjuangan Almarhum," kata anak keenam Anton Medan, Delly Viki Ramdani.

Baca Juga
Lebih baru Lebih lama