Viral Penampakan Lintang Kemukus di Langit Tuban, Ini Penjelasan Lapan


 Bojonegoro -Sebuah garis sinar berwarna oranye terlihat di langit pada Sabtu (10/10) malam. Warga yang mengetahui penampakan benda tersebut banyak yang mengabadikannya hingga viral di media sosial.

Garis sinar oranye itu terlihat oleh warga Tuban dan Bojonegoro. Warga menyebutnya lintang kemukus (komet).

Salah satu warga Bojonegoro yang melihatnya adalah Aldi (20), warga Kedungbondo, Kecamatan Balen. Aldi mengatakan ia melihat benda yang baru pertama kali dilihatnya itu sekitar pukul 22.15 WIB. Aldi menyebut garis sinar berwarna oranye kemerahan di langit sebelah utara itu tidak panjang.

"Tadi malam ada lintang kemukus, di utara timur. Pas kebetulan saya di teras rumah lihat ke langit utara. Suasana kampung memang sepi tadi malam karena sorenya hujan. Kaget juga sebenarnya," ujar Aldi kepada detikcom, Minggu (11/10/2020).


 

   Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), hujan meteor Draconid akan aktif di langit Indonesia pada 6-10 Oktober 2020.

Periode puncaknya adalah pada Kamis (8/10/2020) malam sejak pukul 18.15 hingga 21.30 WIB.

Kepala Bidang Diseminasi Pusat Sains Antariksa Lapan, Emanuel Sungging mengatakan bahwa Draconid sebetulnya bukan hujan meteor yang besar.

Hujan meteor ini dinamai Draconid berdasarkan titik radian atau titik asal munculnya hujan meteor yang terletak di kontelasi Draco.

"Arahnya agak ke utara, secara sederhananya dapat dikatakan berasal dari arah rasi Draco," jelas Emanuel kepada Kompas.com, Kamis (8/10/2020).

Adapun intensitas hujan meteor yang terjadi per jamnya akan berbeda yaitu mulai dari 4 meteor untuk wilayah Kupang hingga 6 meteor per jam untuk wilayah Banda Aceh.




 

Penjelasan Lapan Peneliti dari Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) Emanuel Sungging Mumpuni, menjelaskan lintang kemukus yang disebutkan para warganet itu merupakan jenis meteor yang agak besar. "Itu fireball atau meteor yang agak besar, kebetulan memang dalam beberapa hari ini sedang musim hujan meteor," kata Sungging saat Seperti diketahui, dalam beberapa waktu terakhir, juga terjadi hujan meteor Draconid, yaitu pada 6-10 Oktober 2020. Sungging membenarkan kemungkinan bahwa fenomena yang terlihat tersebut juga termasuk hujan meteor tersebut. "Bisa jadi (hujan meteor Draconid)," jawabnya. Namun demikian, ia mengungkapkan bahwa hujan meteor Draconid hanya berlangsung sekitar dua hari saja. Adapun fenomena hujan meteor ini tidak berbahaya dan normal terjadi. "Tidak berbahaya, normal terjadi," imbuhnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ramai Fenomena Disebut Lintang Kemukus, Ini Penjelasan Lapan", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2020/10/11/125000165/ramai-fenomena-disebut-lintang-kemukus-ini-penjelasan-lapan?page=all.
Penulis : Vina Fadhrotul Mukaromah
Editor : Sari Hardiyanto

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L
Penjelasan Lapan Peneliti dari Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) Emanuel Sungging Mumpuni, menjelaskan lintang kemukus yang disebutkan para warganet itu merupakan jenis meteor yang agak besar. "Itu fireball atau meteor yang agak besar, kebetulan memang dalam beberapa hari ini sedang musim hujan meteor," kata Sungging saat Seperti diketahui, dalam beberapa waktu terakhir, juga terjadi hujan meteor Draconid, yaitu pada 6-10 Oktober 2020. Sungging membenarkan kemungkinan bahwa fenomena yang terlihat tersebut juga termasuk hujan meteor tersebut. "Bisa jadi (hujan meteor Draconid)," jawabnya. Namun demikian, ia mengungkapkan bahwa hujan meteor Draconid hanya berlangsung sekitar dua hari saja. Adapun fenomena hujan meteor ini tidak berbahaya dan normal terjadi. "Tidak berbahaya, normal terjadi," imbuhnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ramai Fenomena Disebut Lintang Kemukus, Ini Penjelasan Lapan", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2020/10/11/125000165/ramai-fenomena-disebut-lintang-kemukus-ini-penjelasan-lapan?page=all.
Penulis : Vina Fadhrotul Mukaromah
Editor : Sari Hardiyanto

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama