Viral Batang Kayu Dipahat Mirip Alat Kelamin Pria di Gunung Sindoro

 


Video yang memperlihatkan kelakuan seorang pendaki yang tak bertanggung jawab dengan memahat batang kayu mirip alat kelamin pria viral di media sosial.

Diketahui, video tersebut pertama kali dibagikan oleh akun @mountnesia sekitar tiga hari yang lalu.

Rekaman tersebut diberi narasi sebagai berikut:

Entah ini polah siapa buat beginian. Menurut perekam video, bentuknya udah agak disamarkan sedikit dengan cara diiris sebagian, mungkin oleh pendaki lain yang lewat.

Ini tak baik dan jangan ditiru bikin beginian ya guys!

@erisoechannel
Gn. Sindoro via Anggrunggondok, Alang Alang Sewu

Hingga Minggu (25/10/2020), video ini telah ditonton lebih dari 100 ribu kali dan menuai komentar beragam dari netizen lainnya.

@dadangrhidayat: Bisa yaa...sempat-sempat bikin begituan di trek pendakian...

@agus_satriaji: Pendaki sekarang banyak yg ....ah tau lah

@bucilds: Bingung Sama pendaki masa kini... Entah apa Yang dicari ya...



@akgaokto: Pendaki sekarang gini amat yak

@aditya.andryawan1: di gunung dijaga sikap dan omongan nya.

Eri mengaku video tersebut ia ambil pada tanggal 11 Oktober 2020 lalu.

Sedangkan lokasinya berada di jalur pendakian ke Gunung Sindoro via Alang-alang Sewu.

"Tepatnya di basecamp pajero, dari post 1 ke post 2," katanya, Minggu (25/10/2020).

Eri sendiri tak tahu-menahu siapa yang memahat batang kayu mirip alat kelamin pria ini.

Dirinya juga mengaku keheranan atas temuannya itu.

"Ya heran, kok sampe segitunya, kreativitas tanpa batas," kelakar pria asli Puntuk Sari, Wonosobo Barat, Wonosobo ini.

Eri sendiri menyangkan kejadian ini, dirinya menilai kreativitas dapat dialihkan dalam bentuk lain.

"Contoh bentuk love atau intinya si semua mungkin untuk penyemangat saat mendaki, hiburan biar nggak begitu terasa lelahnya."

"Selaku pendaki saya kurang suka, kalau misal itu pohon masih hidup terus ditebang cuma dibuat kaya gitu."

"Kalau itu pohon mati si nggak papa, tapi lebih baiknya bentuknya jangan kaya gitu," tandasnya.




Penulis: Endra Kurniawan
Editor: Whiesa Daniswara

Baca Juga
Lebih baru Lebih lama